Hijrah Menuju Hijab
Eva Handayani
Nesha duduk termenung di pinggiran lapangan basket yang masih digunakan untuk berlatih team basket SMA nya. Nampak dari raut wajahnya ia sedang menanti seseorang yang sangat berarti baginya. Tiba-tiba matanya terarah ke seseorang berpostur tubuh tinggi dan berwajah yang lumayan tampan. Matanya tak berkedip sekalipun, dari belakang Nesha datanglah 2 orang yang sedang ia tunggu, mereka adalah sahabat Nesha.
“ Wah tampan sekali pemuda itu” kata salah satu sahabatnya
“Jangan kedip, pandangan pertama masih halal” kata salah seorang sahabatnya yang lain.
“Iya, mumpung belum kedip kita nikmati saja pemandangan yang indah ini” jawab Nesha
Ternyata orang yang ia pandangi adalah salah satu pemain basket dari team SMAnya. Pandangan mereka pun berlangsung hingga terlintasnya sesosok wanita cantik dengan seragam sekolah yang menutupi auratnya, telah mengagetkan Nesha dan 2 orang sahabatnya sehingga mereka tanpa sadar mengedipkan mata.
“ Hey kalian ngapain di sini” kata wanita cantik itu “ ayo kumpulan rohis di mushola atas” ajak wanita cantik itu
“Hehehe iya” jawab Nesha dan 2 orang sahabatnya bersamaan “ nanti kita nyusul aja kesananya” lanjut Nesha
“ Aku tunggu ya, awas kalo gak dateng, nanti aku jewer kalian” jawab wanita cantik itu
Nesha dan 2 orang sahabatnya hanya membalas dengan senyuman. Lalu wanita cantik itu pun pergi ke mushola.
“ Yah gak bisa mandang lagi deh” kata Nesha dengan nada yang dibuat agak sedikit kecewa .
Inilah yang Nesha lakukan jika sudah berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dengan menggoda siswa-siswa di sekolahnya. Namun meskipun begitu Nesha dan sahabat-sahabatnya adalah salah satu diantara anggota rohani islam di SMAnya.
Seluruh anggota ROHIS telah mengenakan pakaian yang menutup aurat alias mereka semua berkerudung meski belum sepenuhnya sesuai syar’i kecuali Nesha dan 2 sahabatnya. Walaupun mereka belum berpakaian yang menutup aurat, mereka sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan di rohis.
***
Di antara sahabat-sahabatnya, Nesha adalah siswi yang memiliki rupa yang anggun, ada banyak siswa-siswa di sekolahnya yang tertarik kepadanya. Mulai dari siswa-siswa yang hobby membolos hingga siswa-siswa yang sangat taat dalam ibadahnya. Hingga pada suatu ketika ia telah di tembak oleh beberapa siswa- siswa yang telah mendambakannya selama ini, tetapi ia menolak semua siswa- siswa itu.
Rasa kurang nyaman karena diperebutkan oleh siswa-siswa di sekolahnya, telah membuat Nesha merubah pikiran yang tadinya tidak ingin berpacaran dengan alasan ia masih ingin belajar dulu, menjadikannya terpaksa harus menerima ungkapan sayang dari beberapa teman cowoknya. Tapi dalam penerimaan untuk menjadi pacar, ia akan mengadakan pemilihan pacar yang tepat untuk dirinya. Ia harus memilah-milah dengan cermat siapakah yang tepat untuk menjadi pacarnya. Hingga akhirnya ia menemukan, salah seorang penggemarnya yang sesuai dengan kriteria yang ia tetapkan. Orang tersebut adalah orang yang sangat taat dalam agamanya, ia sangat rajin dalam menjalankan sholat fardhu maupun sunnah di mushola, dan sangat rajin berpuasa sunnah. Sebut saja namanya Miko.
Kini Nesha dan Miko telah berpacaran, setiap malam minggu Miko selalu datang ke rumah Nesha. Nesha dan Miko jika bertemu tak pernah berbuat macam-macam, tak pernah bersentuhan tangan, bahkan yang lain-lain, tapi mereka masih berpandang –pandangan. Setiap kerumah Nesha, Miko selalu membawakan Nesha oleh-oleh yang sangat bermanfaat. Miko selalu membawakan hadits-hadits shahih untuk Nesha, meskipun Nesha tak mengerti artinya tapi Miko selalu membawakannya untuk Nesha. Hingga kejadian ini selalu terulang jika Miko berkunjung ke rumah Nesha.
Malam ini adalah malam dimana Nesha akan kedatangan pacarnya. Seperti malam-malam sebelumnya, saat Miko datang ke rumah Nesha, Miko selalu membawakan sebuah hadits shahih untuk Nesha. Kali ini hadits yang miko bawakan untuk Nesha sangat berarti bagi mereka berdua. Ternyata hadits yang Miko bawakan untuk Nesha kali ini yaitu tentang haramnya berpacaran dalam islam. Hadits tersebut membuat Nesha bengong dan amat sangat bingung, serta membuatnya bertanya-tanya.
“ Mik, hadits tadi yang kamu baca itu, maknanya tentang haramnya berpacaran dalam islam kan?” Tanya Nesha kepada Miko setelah mendengarkan hadits yang Miko bacakan untuknya
“Iya benar” jawab Miko “kok kelliatannya kamu kayak orang bingung gitu?” lanjut Miko
“ Enggak, aku Cuma bingung saja” jawab Nesha.
“Bingumng kenapa?” Tanya Miko kembali ”memang ada yang aneh apa dengan hadits itu, atau yang aneh cara aku membawakanya?” tanyanya kembali.
“ Aku bingung saja, selama ini kamu selalu membawakanku sebuah hadits saat ke rumah, dan kali ini kamu membawakanku hadits yang membuatku menjadi heran, aneh, dan sulit di ungkapkan dengan kata-kata kepadamu” jawabnya
“anehnya gimana maksudmu?” Tanya Miko yang kini ikut tenggelam dalam kebingungan.
“Hadits yang kamu bawakan ini kan tentang tidak adanya pacaran dalam islam, dan kamu juga adalah salah seorang yang sangat taat dalam beribadah, serta kamu mengetahui perbuatan apa saja yang di larang oleh ALLAH, salah satunya juga berpacaran sebelum menikah” sambil menarik nafas” tapi kenapa kok kamu malah berpacaran denganku?” lanjutnya
“Jawabannya karena pesonamu yang memikat hatiku” sambil senyum-senyum
“ Loh berarti selama ini aku setan dong” jawab Nesha ”setan yang mengganggu ibadahmu kepada ALLAH” lanjutnya
Miko hanya terdiam seribu bahasa, saat mendengar ungkapan Nesha kepadanya.
“ kalo begitu mendingan kita berteman saja, karena aku juga tak mau merusak amalan ibadahmu selama ini” kata Nesha “mungkin ini semua bisa menjadi pelajaran untuk kita” lanjut Nesha.
Miko hanya membalas dengan senyuman.
Dan pada akhirnya hadits yang Miko bawakan kali in merupakan hadits terakhir yang telah didengar Nesha dari malam-malam sebelumnya. Mereka sekaranmg hanya berteman, hingga mereka lulus SMA.
***
3 bulan kemudian
Nesha kini telah melanjutkan pendidikannya di perkuliahan. Ia telah diterima di perguruan tinggi Negeri di Lampung. Karena letak kampus dengan rumahnya yang sangat jauh ia kini harus rela meninggalkan kampung halamannya demi menuntut ilmu. Namun ia masih dapat pulang sewaktu- waktu ia inginkan.
Kini Nesha pun memiliki banyak teman baru yang lebih mengerti tentang agama dari dirinya. Sehingga ia mendapat banyak masukkan positif dari teman-teman barunya.
Selama ia menuntut ilmu di perguruan tinggi ia telah memiliki keinginan untuk merubah penampilannya, hingga suatu ketika ia menelpon ibunya, bahwa ia ingin mengenakan jilbab. Ia sangat takut akan respon negatif ibunya akan perubahan pada dirinya, dan ternyata respon ibunya ialah negative. Namun itu tidak membuat keinginannya hancur begitu saja, ia selalu mengumpulkan uang dari biaya hidupnya di kostn selama seminnggu, untuk membeli baju- baju yang menutup aurat dan rok- rok panjang. Serta beberapa kerudung.
Setelah semuanya terkumpul kini ia telah siap untuk mengenakannya, namun saat ia berubah ia tak pernah berani pulang ke rumah, karena ia takut respon negatif dari ibunya. Ibunya takut ia tersesat kedalam ajaran agama islam yang menjerumus ke dalam hal hal yang buruk.
Nesha yang biasanya pulkam seminggu sekali kini ia menjadi sebulan baru pulang. Nesha masih terbayang-bayang dengan larangan sang ibu kepadanya untuk tidak mengenakan jilbab. Ia takut jika gara-gara jilbab, ia harus bermusuhan dengan sang ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya kedunia ini, serta merawatnya hingga saat ini.
Selama perjalanan pulang ia selalu terbayang-bayang dengan bagaimana tanggapan sang ibu kepadanya.
“Bagaimana ini jika ibu, tak menerima penampilanku ini” Tanya ia dalam hati “ mungkinkah ibu akan mengusirku dari rumah atau tidak menganggapku menjadi anaknya lagi”.
Ia selalu menanyakan hal yang demikian kepada dirinya sendiri. Pada saat-saat ia akan sampai di rumah, ia semakin khawatir. Ia harus bagaimana jika sang ibu tak menerimanya?
Kini ia telah sampai di depan rumahnya, ia masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumahnya. Nesha berharap jika yang membuka pintu adalah kakaknya. Lalu ia mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok
“assalamualaikum,,” ucap salam Nesha kepada penghuni rumah
Ia mengucap salam sambil meIa mengucap salam sambil meminta kepada ALLAH supaya yang menjawab salamnya ialah kakaknya dan yang membuka pintu pun kakaknnya.
Dag dig dug detak jantung Nesha yang semakin takut.
“walaikumsalam” suara seorang lelaki dari dalam rumah.
Nesha kini menjadi lega ternyata yang menjawab salamnya adalah kakaknya.
Srek srrek srek,, suara derap kaki melangkah menuju pintu dimana Nesha sedang berdiri.
Ceklek, suara pintu yang akan dibuka.
Alangkah kagetnya Nesha ketika ia tahu ternyata orang yang membukakan pintu ialah ibunya. Kini ia diam seribu bahasa. Nampak raut wajah sang ibu seperti orang marah. Ini membuat Nesha semakin kaku dan tubuhnya menjadi dingin seperti es. Lalu ia pun pasrah jika pada akhirnya nanti ia harus di marah-maraholeh ibunya.
“Nesha, cantik sekali kamu nak” sambut ibunya “udah lama gak pulang ke rumah, kirain udah gak kangen lagi sama ayah ibu”lanjut sang ibu sambil tersenyum, dan memeluk Nesha untuk meluapkan rasa rindunya sang ibu kepada anaknya.
“hehehe” jawab Nesha yang merasa lega “Nesha kangen sekali sama ibu”lanjut Nesha
“ ayo masuk, pasti kamu lapar, ayo makan dulu, kebetulanm hari ini ibu memasak makanan kesukaanmu” ajak ibunya
“iya ibu makasih” jawab Nesha.
Akhirnya semua dugaan dan kekhawatiran Nesha selama ini salah terhadap ibunya. Atas kemurahan hati sang ibu, kini ia telah menjadi wanita yang sangat anggun, baik dari luar maupun dari dalam. Meskipun ia pernah memiliki masa lalu yang buruk, seperti menggoda siswa-siswa di SMA nya selama ia masih duduk di bangku SMA, dan dia juga pernah menarik hati salah satu pemuda yang amat sangat taat kepada ALLAH sehingga berpacaran dengan nya, bisa dibilang ia pernah menjadi setan pengganggu ibadah. Tapi kini ia telah berubah untuk menjadi wanita shalehah, yang menjaga auratnya, menjaga pandangannya, serta menjaga hatinya karena ALLAH.
Komentar
Posting Komentar