Bukan
Guru yang Salah
Karya
: Eva Handayani
Hari–hariku di sekolah dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan organisasi.
Ditambah lagi aku mengikuti bimbel diluar sekolah. Rasanya berat bagiku, aku
ingin sekali memiliki satu hari khusus istirahat yang dihadiahkan untukku, untuk terbebas dari
rutinitas sekolah. Namun itu sungguh sulit untuk menjadi kenyataan saat ini.
Mulai hari senin hingga minggu tak ada satu hari yang bebas dari kegiatan
belajar, jika tidak disekolah dengan kegiatan organisasi, ya aku mengikuti
bimbel diluar sekolah sepulang sekolah. Aku adalah salah satu siswa yang kos
didekat sekolah. Jika sudah berbulan-bulan tidak pulang kerumah kedua orang tua
rasanya rindu sekali.
Otak seperti dikuras habis untuk
memikirkan sekolah, bimbel, kebutuhan, tugas dan seabrek catatan-catatan yang
harus aku pikirkan untuk hidupku. Seakan-akan otak ini mendidih, layaknya air
yang direbus pada suhu seratus derajat. Ibarat pohon mangga yang harus terus
menghasilkan buah meski belum waktunya untuk berbuah, mungkin begitulah aku
yang selalu memaksa otakku untuk berpikir dan terus berpikir. Berharap yang
terbaik dan bagaimana hidupku yang harus berjalan dan maju kedepan.
Rasa capek dan bosan selalu
menghampiriku, dan bahkan rasa itu akan membuatku menjadi malas untuk melakukan
aktivitas-aktivitas yang harus aku lakukan. Apabila ada tugas dari sekolah maka
akan segera kukerjakan, jika aku menundanya mungkin aku akan malas bahkan
hingga lupa mengerjakannya. Sering kudapati kesulitan saat mengerjakan tugas
sekolah, namun aku selalu mencoba untuk menyelesaikan dan mengatasi kesulitan
yang menghadangku. Tetapi saat aku sudah benar-benar buntu, aku pasti menunda
hingga esok harinya dan membuat sebuah pengingat. Kesulitan yang benar-benar
tidak bisa ku selesaikan itu akan menimbulkan rasa lelah dan malas yang
menghinggapiku.
Aku akan mencoba menepis rasa malas
dan menjadikan hari-hariku untuk lebih menyenangkan agar rasa lelah tak lagi
sempat kurasakan. Aku harus selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dan
lebih baik. Aku harus sekolah benar-benar dan bersungguh-sungguh. Aku ingin
melihat kedua orang tuaku tersenyum lebar, bangga terhadapku. Rasanya ku tak
ingin mereka merasa kecewa terhadapku.
Aku lantas beranjak dari tempat tidur yang membuat tubuhku terasa nyaman
sehingga melupakan aktivitas yang lain. Segera kusambar handuk yang
digantungkan dipintu kamar kos ku itu dan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi
diluar sana.
“Aku harus semangat.. ! don’t be lazy, Sha” kataku sendiri
mencoba untuk menyemangati diri ini.
***
Ku ambil salah satu buku yang berada
diantara tumpukan yang tertata rapi di meja belajarku itu. Lalu kubuka buku
bewarna sampul cokelat, bertuliskan
KIMIA dan kucoba memahami pekerjaanku tadi disekolah.
“Huft... apanya ya yang salah?”
tanyaku yang bingung sekali dan ingin mengetahui kesalahanku dalam mengerjakan
soal dari pak Suwarna.
Inilah pekerjaanku sepulang
sekolah, selalu mengulang pelajaran yang belum aku pahami disekolah. Namun kali
ini aku benar-benar tidak memahami dengan materi kimia yang diajarkan saat itu.
Entah, karena gurunya yang kurang cocok dihati atau memang akulah yang belum matang
dengan materi itu. Aku sudah mencoba berulang-ulang untuk memahaminya, namun
kesulitanlah yang selalu kudapati. Minggu depan aku akan melaksanakan ulangan
harian untuk pelajaran kimia dengan materi Larutan Penyangga. Aku berusaha
keras untuk memahami materi itu.
Aku berpikir jika pH Larutan
Penyangga yang aku hitung, benar-benar
nyata berupa percampuran antara asam lemah dengan basa konjugasinya dan
aku harus membuat campuran itu sendiri. Niscaya aku akan bingung bukan
kepalang. Belum lagi menentukan konsentrasi dari masing-masing larutan dan
menentukan volumenya, serta mencampurkan larutan itu. Hingga akhirnya akan
kutemukan hasil pH dari Larutan Penyangga itu. Pasti aku akan bingung.
Meskipun begitu, pelajaran kimia
adalah pelajaran yang aku sukai. Sejak pertama duduk dibangku SMA, aku langsung
menyukai pelajaran itu. Pada materi unsur-unsur kimia, seluruh siswa kelas X
yang diajar pak Suwarna di tugaskan untuk membuat tabel periodik unsur-unsur menggunakan kertas
yang berukuran 60x45 cm. Berhubung aku memiliki hoby menggambar, aku langsung
mengerjakannya dengan penuh ketelitian dan kelembutan dalam membuat tabel itu.
Itulah yang membuat aku menyukai pelajaran kimia. Ditambah lagi hasil karyaku
mendapat nilai terbesar diantara yang lain yaitu 85. Namun saat beberapa kali
pertemuan aku merasa otakku menolak materi yang diberikan beliau, namun aku
masih tetap menyukai pelajaran beliau. Hingga akhirnya ketidakpahamanku dengan
materi yang pak Suwarna ajarkan membuat aku untuk tidak menyukai beliau. Padahal pak Suwarna adalah guru yang lucu,
sabar dan penyayang.
Akhirnya guru kimia dikelas X
semester genap telah digantikan dengan guru baru, beliau sungguh sabar, bahkan
beliau juga adalah salah satu motivatorku untuk menjadi yang terbaik dengan
jalan yang baik. Bu Hastin, guru kimia ku yang baru di semester genap kelas X.
Awalnya seluruh siswa dikelasku menerima bu Hastin dengan rasa terpaksa namun
beberapa kali pertemuan aku dan teman-temanku yang lain dapat menerima dengan
hati bahagia. Disetiap kertas ulangan yang beliau berikan selalu ada
pengingatnya untuk kami mengerjakan soal itu dengan jujur. Hingga beberapa kali
ulangan harian aku selalu mendapat nilai diatas 75. Dan dinilai raporku bercoretkan
tinta hitam dengan angka 86 untuk mata pelajaran kimia. Aku menjadi lebih
senang diajar bu Hastin.
Saat aku naik kelas XI aku memilih jurusan
IPA, karena cita-cita yang hendak aku impikan bersangkutan atau sejalan dengan
jurusan ipa. Itulah alasanku. Menjadi guru kimia adalah cita-citaku. Aku ingin
berbagi ilmu yang aku miliki kesemua orang yang membutuhkan. Kini dikelas yang baru aku menemukan teman
baru pula. Dan guru kimia ku pun berbeda dari sebelumnya. Aku diajar oleh bu
Ana, namun aku dapat menerima materi yang diasupkan keotakku. Walaupun pernah
memiliki riwayat mendapat nilai dibawah 70, tetapi nilai kimiaku yang lainnya
diatas 80. Aku merasa enak diajar bu Ana, walaupun tak seenak bu Hastin. Tapi
aku juga sedikit sebel sama bu Ana,
karena nilai diraporku tak seindah nilai rapor yang pernah diberikan bu Hastin,
meskipun keseharianku tidak jauh beda saat aku di ajar bu Hastin.
Sungguh malang nasibku saat semester
genap dikelas XI kini hadir. Ternyata guru kimiaku telah berganti. Pak Suwarna
telah mengajarkan kimia lagi dikelasku. Aku sudah merasa tidak suka duluan. Dan
kini aku pun langsung menyimpulkan bahwa guru yang mengajar pun memiliki
pengaruh besar terhadap nilai. Apabila guru yang mengajar tidak sesuai dengan
hati, maka kita tidak dapat menerima asupan materi yang diberikan. Huft..
mengapa harus seperti ini. Menurutku itu kesimpulan yang tepat untuk aku
ungkapkan saat ini.
Dua hari sebelum ulangan kimia
materi larutan penyangga, aku mulai belajar lebih dimaksimalkan untuk materi larutan
penyangga. Meskipun seminggu ini hampir
semua pelajaran akan ulangan harian. Tetap aku sempatkan untuk belajar kimia,
ibaratnya belajar hanya lima menit setiap hari selama seminggu. Walau
sebenarnya selama aku mempelajari materi itu tidak ada yang nyangkut di otak,
mungkin hanya 5% yang dapat diserap otakku. Tapi aku tidak merasa lelah untuk
mempelajarinya hingga seratus persen dapat diserap otak ini.
Malam hari ini adalah malam dimana
aku harus benar-benar meyakinkan hatiku bahwa esok hari aku akan dapat
mengerjakan soal yang telah disiapkan pak Suwarna untuk di ulangkan esok. Saat
pemantapan hati, aku masih saja merasa belum yakin dengan apa yang telah aku
usahakan selama seminggu ini. Belum lagi teringat dengan soal yang akan
diulangkan esok berbentuk esai, aku jadi tambah tidak siap untuk menghadapi
soal-soal kimia itu.
Semalan ini aku hanya belajar kimia,
aku selalu mencoba mengerjakan soal-soal
yang ada dibuku LKS Kimia. Aku memainkan tanganku untuk menari-nari diatas
kertas putih, agar memiliki kesan coretan tinta hitam, yang akan membuatku
untuk lebih memahami materi yang sedang aku pelajari. Hingga larut malam tangan
ini belum saja berhenti menari diatas kertas putih itu. Namun waktu kini
menunjukkan pukul 23.30 WIB, dan otakku mulai kelelahan, rasa kantuk pun mulai
menyerang, serta tangan ini serasa ingin berhenti menari diatas kertas putih
yang kini hampir tertutup habis oleh tinta hitam. Kuputuskan untuk menyudahi
persiapan menghadapi soal kimia esok hari, dan mungkin akan aku lanjutkan lagi
setelah bangun tidur esok pagi.
“Alhamdulillah, aku bisa bangun
jam 4 meski tadi malam aku tidur larut
malam” kataku dalam hati saat terbangun dari tidurku yang selalu terbayang
dengan ulangan kimia.
Aku melanjutkan belajar kimia. Aku
tidak boleh menyerah, aku harus bisa. Tapi Aku sudah keburu pasrah, karena
belum begitu matang menguasai materi itu. Hingga ulangan tiba, aku masih belum
begitu paham. Meskipun sudah banyak usaha yang aku lakukan tapi apalah daya
jika aku memang belum paham.
Ulangan kini dilaksanakan, kebetulan
pelajaran kimia adalah jam pertama dihari ini.
“Huft... pagi-pagi udah sarapan
dengan soal ulangan” gerutuku pelan saat
pak Suwarna datang membawa soal ulangan.
“Hah, ternyata soalnya mudah juga”
kataku pelan saat memulai membaca dan mengerjakan soal pertama yang dibagi
menjadi dua bagian.
Hingga soal nomor dua aku masih
sangat lancar dan tidak mendapati kesulitan sedikitpun. Namun saat kubaca soal
nomor tiga aku mulai merasa bingung dan pusing bagaimana cara mengerjakan soal
nomor tiga itu? Padahal aku sebelumnya sudah mempelajari soal yang sama
bentuknya dengan soal itu dan aku sudah sedikit paham. Tetapi entah, saat angka
dan larutan yang tertera berubah, aku menjadi tidak memahami soal itu. Aku
mengerjakannya dengan apa yang aku pahami saja. Walaupun soalnya hanya ada tiga
nomor namun disetiap nomor memiliki cabang masing – masing. Waktu untuk ulangan
pun habis.
“Sha, gimana soalnya tadi?” tanya
Reni kepadaku
“Entahlah, aku benar-benar dibuat
pusing dengan soal ulangan tadi dan merasa mual” jawabku dengan nada sedikit
kecewa “mungkin karena aku belum terlalu menguasai materi itu”. Lanjutku.
“Belajar sih udah hampir tiap hari,
tapi gimana lagi kalo belum paham tetep aja kayak gitu”. Kataku dengan nada
sedih dan menyesal.
“Ya udahlah, mudah-mudahan besok
nilainya diatas 75” kata Reni yang mencoba menghiburku.
“Aku yakinnya sih, dapat nilai
dibawah 70 “ perkiraanku tentang hasil ulanganku.
“Udah jangan sedih” hibur Reni
“Tadi aku memang mengerjakannya
semua, tapi aku rasa nomor tiga aku salah semua, belum lagi kayaknya nomor dua
yang C aku salah ngitungnya” jelasku tentang apa yang aku kerjakan tadi.
“Tapi itu kan baru perkiraanmu, sapa
tau perkiraanmu salah, dan ternyata banyak yang benar” kata-kata Reni yang
ingin menenangkanku.
Sampai pulang sekolah aku selalu
memikirkan nilai kimia yang akan aku dapatkan. Perasaan sedih menemani
perjalananku pulang ke kosan yang tak jauh dari sekolahku.
***
Kini sudah hampir 2 bulan aku tidak pulang kerumah kedua
orangtuaku. Aku sangat rindu kepada mereka, tetapi dengan jadwal kegiatan
sekolah yang memenuhi hari-hariku yang sehingga membuat aku merasa
disibukkannya dan tidak memiliki kesempatan untuk pulang kekampung halaman.
Rasa sedih telah menyelimuti hatiku.
Saat beberapa kawan kosku memiliki
waktu luang, mereka gunakan waktu luang itu untuk sejenak melepas rindu
dikampung halaman. Namun hanya aku dalam dua bulan ini yang belum berkunjung
kekampung halaman, hanya sekedar melepas rindu dan menyingkirkan semua
kepenatan dalam hati yang mungkin kini sudah tertata rapi dan begitu
banyak, sehingga membuat aku ingin
meluapkan semuanya.
Rasa rindu kepada keluarga terutama
terhadap pelukan hangat ibu, kini yang aku rasakan. Aku juga rindu dengan kata-kata
ibu yang menjadi penyemangat hidupku. Disaat aku belajar dan merasa bosan pasti
ibu akan mencoba untuk menyemangatiku, agar aku tidak mudah berputus asa. Orang
yang mudah berputus asa adalah orang yang akan gagal seumur hidupnya. Kata ibuku. Tapi aku juga tidak boleh merasa takut
saat aku mengalami kegagalan, karena kegagalan adalah awal untuk menuju
kesuksesan. Itulah yang selalu ibu katakan padaku.
Saat ini, aku ingin mencurahkan isi hatiku pada ibuku
tentang apa yang aku rasakan, aku ingin bercerita tentang apa yang aku alami.
Dari ketidakcocokan dihatiku terhadap beberapa guru yang mengajarku saat itu,
dan hasil-hasil ulangan beberapa mata pelajaran yang akan aku dapatkan.
Selama dikosan aku selalu berharap
mudah-mudahan nilaiku tidak terlalu buruk untuk kuceritakan ke ibuku. Aku
selalu meratapi nilai yang akan aku dapatkan. Hancurkah nilaiku itu?.
.
***
Seminggu yang lalu aku telah
melaksanakan ulangan kimia, kini tinggal
kunanti hasilnya. Aku menanti hasil ulangan kimia itu dengan perasaan sedih,
aku takut nilai yang akan aku dapatkan seperti apa yang aku bayangkan. Akankah
nilai yang aku dapatkan kurang dari KKM? mungkinkah yang aku usahakan selama
ini akan sia-sia? Dan bagaimana aku akan menyampaikan kepada ibuku, jika ini
semua terjadi?. Guru kimia kini masuk ke
ruang kelasku. Jantungku mulai berdetak lebih cepat dua kali dari detak jantung
normal, rasa gelisah, takut kini mulai menghantuiku. Aku tak bisa merelakan
jika nilaiku harus hancur seperti yang aku bayangkan. Tangan dan seluruh
tubuhku dingin terbawa suasana hatiku yang galau. Dan ketika telinga ini
mendengar pak Suwarna mengumumkan siapa saja yang remedi, aku semakin ingin
menutup telinga ini. Rasanya kutak ingin mendengar celotehan teman-teman yang menanyakan
siapa saja yang tidak dapat menyelesaikan KD itu dengan tuntas. Ternyata
telinga ini terlalu peka mendengar nama yang disebut sebagai tersangka
remedial. Akulah tersangka remedial itu. Aku sedih, aku sudah tidak sanggup
lagi untuk melihat nilaiku. Sungguh aku membenci kelalaian diriku ini, bahkan
aku juga semakin membenci guru kimiaku itu. Aku merasa ingin ganti guru
kimianya, aku tak ingin nilaiku akan semakin turun dan turun jika di ajar
beliau terus-menerus. Aku ingin diajar bu Hastin kembali. Aku ingin sekali
memahami materi-materi yang diajarkan di sekolah. Aku tak ingin membuat kedua
orang tuaku kecewa, mereka telah membiayai sekolahku, meski mereka harus
merelakan kulit mereka untuk terus terbakar panas teriknya matahari. Rasanya
aku ingin menjerit. Batinku menangis.
“Eh
maaf, ada kesalahan, bapak salah jumlahin nilainya, Nesha, kamu tidak
remed” kata pak Suwarna tiba-tiba merusak lamunanku yang meminta maaf karena
salah menjumlahkan nilai ulangan kimia seminggu yang lalu.
Sungguh itu mengagetkanku, dan kini
aku lebih-lebih tak percaya, ternyata aku tidak jadi remedi, nilaiku 76 nyaris
remedi. Sungguh aku sudah mulai berputus asa dan sedih saat telinga ini
mendengar namaku disebutkan diantara siswa yang remedi. Tadinya aku bingung
bagaimana aku akan mengatakan kepada orang tuaku jika nilaiku seburuk itu.
Padahal aku ingin membahagiakan mereka. Namun itu ada kesalahan dalam
penjumlahan nilaiku. Mengapa bisa ada kesalahan seperti ini, yang hampir
membunuh perasaanku. Batin yang menangis kini berubah menjadi tersenyum.
Kesalahan dalam penjumlahan nilai
ulangan oleh guru itu adalah hal yang wajar. Mungkin guru itu lelah karena
tidak hanya mengajar satu kelas saja tapi harus mengajar selama 35 jam di
sekolah. Belum lagi ditambah kegiatan diluar sekolah yang harus menguras tenaga
dan pikiran.
Kini aku bisa merasa sedikit lega,
walaupun nilainya nyaris dibawah KKM, yang penting aku tidak remedi. Apalagi di
materi yang di ulangkan ini aku belum begitu menguasai. Akhirnya kerja kerasku
selama ini tidak sia – sia. Meskipun selama belajar aku sulit untuk memahami
materi itu, tapi pada akhirnya aku bisa memahami. Toh walaupun itu cuma sedikit
sekali materi yang dapat diterima oleh otakku, namun itu dapat membantu
ulanganku untuk materi larutan penyangga. Sungguh senangnya hatiku ini, kini
aku tidak jadi membenci guruku itu, karena nilai yang kurang dari KKM. Namun rasa benci pada guruku luluh karena
nilai yang nyaris mendekati KKM.
Sekarang aku menyimpulkan, ternyata
guru tidak sepenuhnya berpengaruh pada nilai. Tapi kemauan dan kerja keraslah
yang akan merubah nilai dan hasil yang kita dapatkan. Guru tidak sepenuhnya
membantu dan memperburuk murid, dan keluarga juga tidak memiliki pengaruh yang
begitu besar. Hanyalah kemauan besar
yang 100 persen mempengaruhi sesuatu yang kita kerjakan. Family just 66%, attitude = 100%.
Jadi tingkatkanlah kemauanmu untuk
menjadi orang yang sukses, karena kemauan yang kuatlah yang akan mewujudkan
harapan yang kita impikan.
Komentar
Posting Komentar