Kasih Sayang ALLAH Kepada Hamba-NYA
karya : Eva Handayani
Hari-hari selama menjadi mahasiswa semester awal
sangatlah membosankan menurut Nadzwa. Ia adalah seorang mahasiswa perantauan.
Ia berasal dari Lampung yang kini kuliah di Jawa. Belum ada kegiatan organisasi
yang dapat ia lakukan. Hal tersebut seringkali membuatnya merasa kesepian
disaat hari-hari libur kuliah, bahkan ia pun sering merasa homesick. Bahkan rasa sunyi sepi yang melandanya membuat dirinya
merasa sendirian tanpa ada seorang teman dan keluarga didekatnya.
Nadzwa sangat menginginkan sesosok teman dan keluarga
yang mampu menerpa rasa sunyi sepi yang ia rasakan dan yang mampu membawanya ke
arah jalan kebenaran. Ia sangat berharap mampu menemukan teman-teman seperti
yang ia miliki selama di bangku SMA, yang selalu mengingatkan untuk selalu
melaksanakan ibadah, selalu mengajaknya untuk selalu mengikuti kajian-kajian
islam. Hingga pada suatu hari saat ia sedang menunggu antrian mukenah untuk melaksanakan
shalat maghrib di Masjid Kampus ia bertemu dengan seorang mahasiswi yang hendak
mengantri mukenah seperti dirinya. Nadzwa pun mencoba mendekati mahasiswi
tersebut sambil tersenyum.
“Mbak ndak shalat?”
Tanya Nadzwa kepada mahasiswi tersebut
“Shalat mbak” jawab mahasiswi tersebut “ tapi saya
ndak bawa mukenah jadi nunggu yang lain selesai shalat” lanjut mahasiswi
tersebut sambil tersenyum
“Kalau begitu sama dong mbak” ucap Nadzwa kepada
mahasiswi tersebut “o ya mbak sendirian?” Tanya Nadzwa
“Iya mbak” jawab mahasiswi tersebut “ o ya, mbak
namanya siapa?” Tanya mahasiswi
“Oh iya perkenalkan nama saya Nadzwa, saya dari
jurusan keperawatan” jawab Nadzwa sambil menunujukkan senyum manisnya “ kalo
mbak namanya siapa? Dari jurusan apa?” Tanya Nadzwa
“Saya Elya dari jurusan bahasa inggris” jawab
mahasiswi “o ya mbak Nadzwa angkatan tahun berapa?”
“Saya angakatan tahun 2014” jawab Nadzwa
“Oh mahasiswi baru?” ucap Elya “kalo saya angakatan
tahun 2011”
Obrolan mereka tidak hanya berupa obrolan biasa,
bahkan mereka pun bertukar nomor sampai terlihat sangat akrab. Mereka saling
bercerita tentang pengetahuan yang mereka miliki tentang agama. Sampai-sampai mbak
Elya pun menawarkan kepada Nadzwa tentang suatu kegiatan untuk melaksanakan
kajian islam, Karena Nadzwa pada saat itu sedang merasa sangat membutuhkan charger hati berupa kajian-kajian islam
ia pun langsung menerima tawaran Elya. Obrolan mereka terputus saat shalat
jama’ah telah selesai.
***
Beberapa hari kemudian
Elya mengirim pesan melalui sms kepada Nadzwa.
“Assalamu’alaikum, dek Nadzwa
ini saya mbak Elya yang beberapa hari yang lalu pernah bertemu dek Nadzwa di
masjid kampus. O ya dek Nadzwa mbak pengen ngajak ketemuan nih sama dek Nadzwa,
dek Nadzwa bisa tidak? “ tulisan pesan dari mbak Elya
Tiba-tiba hp Nadzwa
bordering tanda sms masuk, Nadzwa langsung membuka hp nya dengan harapan
mendapat sms dari orang tuanya. Namun setelah ia membuka pesan masuk tersebut
ternyata pesan tersebut adalah pesan dari mbak Elya mahasiswi yang dikenalnya
beberapa hari yang lalu. Dengan kelincahan ibu jarinya iya mengetik sms balasan
untuk mbak Elya.
“Wa’alaikumsalam, maaf
mbak Elya mau ketemuan kapan dan dimana?” tulisan pesan balasan dari Nadzwa
Mbak Elya pun langsung
menjawab pesan dari Nadzwa
“Dek kalo sekarang di
Masjid bagaimana dek?”
Nadzwa pun membalas
pesan dari Elya dan mengiyakan untuk ketemuan. Hingga pada akhirnya mereka pun
ketemuan. Bahkan tidak hanya hari itu saja mereka ketemuan, mereka pun sering
ketemuan setiap seminggu sekali. Bahkan itu pun menjadi suatu agenda wajib.
Nadzwa merasa sedikit
bahagia sebab ia sekarang dapat melanjutkan kegiatan kajian yang sebelumnya
menjadi agenda rutin saat dibangku SMA. Bahkan Nadzwa pun merasa nyaman untuk
melakukan kajian bersama mbak Elya. Nadzwa sangat bersyukur telah ditemukan
dengan mbak Elya.
“Ternyata ALLAH tidak pernah melupakan hamba-NYA dan
tidak membiarkan hati hamba-NYA kosong”
Namun hari
terus berjalan, kesibukan Nadzwa di kampus kini semakin bertambah banyak.
Sehingga agenda pertemuan dengan mbak Elya sempat berhenti selama beberapa
bulan. Nadzwa tidak pernah merasa kesepian lagi meski tidak melakukan agenda
kajian dengan mbak Elya.
Kesibukan-kesibukan
kampus yang dirasakan Nadzwa kini telah berlalu. Mbak Elya pun telah
mengirimkan sms kepada Nadzwa untuk mengajak ketemuan kembali setelah sekian
lama tak jumpa. Nadzwa pun menerima tawaran untuk bertemu kembali dengan mbak
Elya. Mereka memutuskan untuk bertemu di masjid kampus seperti biasanya. Mereka
berbagi cerita tentang apa yang mereka lalui selama mereka tidak pernah
berrtemu. Mereka saling menanyakan keadaan satu sama lain.
***
Kini kegiatan
organisasi kampus mulai aktif untuk mahasiswa/i baru. Nadzwa pun tertarik untuk
mengikuti kegiatan organisasi di kampus, terutama kegiatan yang menjurus
tentang kerohanian islam. Karena pada harapan awal masuk kuliah ia berharap
dapat mengikuti kegiatan kerohanian islam seperti di SMA nya dulu.
Nadzwa pun mengikuti beberapa
tahapan seleksi penerimaan anggota baru organisasi kerohanian islam. Ia
berharap dapat lolos seleksi dan ia pun berharap diterima pada bidang yang
menjadi pilihannya. Setelah selesai mengikuti seleksi Nadzwa pun bertemu dengan
kakak tingkatnya yang bernama mbak Ukif.
“Dek Nadzwa ikut
seleksi penerimaan pengurus kerohanian islam kampus keperawatan ndak?” Tanya
mbak Ukif
“ Nadzwa ikut seleksi kok mbak Ukif “ jawab Nadzwa sambil tersenyum
manis “loh mbak Ukif ndak ikut mewawancarai calon-calon pengurus?” Tanya Nadzwa
“Sip sip pasti dek
Nadzwa diterima” ucap mbak Ukif sambil menunjukan senyum manisnya yang
meluluhkan hati “ndak mbak lagi ada tugas jadi mbak ndak ikut mewawancarai
kalian”.
“Wah mbak Ukif sibuk
sekali ya” ledek Nadzwa kepada mbak Ukif
“Ya beginilah tugas
sebagai mahasiswa” jawab mbak Ukif “ dek Nadzwa kamu cocok dijadikan sebagai
seorang pementor.” Lanjut mbak Ukif
Nadzwa hanya membalas
ucapan mbak Ukif dengan senyuman manisnya.
Pada akhirnya obrolan
mereka pun terputus karena Nadzwa hendak pamitan pulang dan mbak Ukif akan
mengerjakan tugas kuliah yang sudah dikejar deadline.
***
Pengumuman seleksi
penerimaan pengurus organisasi kerohanian islam kampus kini telah tiba. Nadzwa
pun telah diterima sebagai pengurus kaderisasi. Namun itu tidak sesuai dengan
pilihan yang iya daftarkan.
Nadzwa menceritakan
kabar pengumuman seleksi kepada mbak Elya. Nadzwa juga mengatakan kepada mbak
Elya bahwa ia akan menjadi mahasiswi yang sibuk, lalu ia akan jarang bertemu
lagi dengan mbak Elya. Namun mbak Elya bukannya mendukung Nadzwa untuk
menjalankan amanah yang telah diberikan kepada Nadzwa, palah mbak Elya mencoba
untuk mengajak Nadzwa sering ketemuan, dan meninggalkan syuro’ pengurus. Seakan
–akan Nadzwa dihalangi untuk tidak menjalankan amanah yang telah diberikan
kepadanya.
“ Dek Nadzwa kayaknya
kita perlu sering ketemu dek, biar kamu bisa lebih paham tentang islam yang
sesungguhnya” kata mbak Elya
“Insha Allah ya mbak,
soalnya kan Nadzwa sekarang sudah punya amanah di organisasi.”
Lama-kelamaan Nadzwa
merasa tidak nyaman dengan mbak Elya. Nadzwa merasa sering diatur bahkan pernah
mbak Elya mengungkapkan amarahnya kepada Nadzwa. Nadzwa semakin bimbang untuk
mendekati mbak Elya.
Namun saat Nadzwa
mencoba untuk menjauhi mbak Elya, Nadzwa tidak mampu melakukannya. Bahkan mbak
Elya tiba-tiba berubah menjadi lebih baik dan menjadi lebih sabar serta
menunjukkan kalau sesungguhnya dia sangat menyayangi Nadzwa. Hal tersebut
membuat Nadzwa semakin merasa sulit untuk menjauhkan diri dari mbak Elya,
bahkan kini Nadzwa menjadi semakin dekat kembali dengan mbak Elya.
Kedekatan mereka pun
kini semakin bertambah. Hingga akhirnya
ada beberapa kakak tingkat Nadzwa yang merupakan salah satu pengurus kerohanian
islam mencurigai kedekatan Nadzwa dengan mbak Elya. Bahkan salah sahabat Nadzwa
sampai mencoba menanyakan kepada Nadzwa tentang apa saja yang telah diajarkan
oleh mbak Elya kepada Nadzwa. Cara sahabat Nadzwa bertanya membuat Nadzwa merasa terkekang.
Bahkan Nadzwa pun merasa jengkel dan tidak nyaman akan pertanyaan – pertanyaan
sahabatnya itu.
“Nadzwa pokoknya kalo
kamu merasa aneh sama apa yang telah mbak Elya sampaikan kepadamu tolong kamu
cerita ya ke aku” ucap sahabat Nadzwa
“Iya, tapi saya rasa
ndak ada yang aneh kok sama materi apa yang telah disampaikan oleh mbak Elya”
jawab Nadzwa
Nadzwa sampai berpikir
dia tidak ingin menemui sahabatnya itu, karena ia merasa terlalu di awasi.
***
Keesokan harinya Nadzwa
mencoba mencari kebenaran. Nadzwa kini harus memeras pikiran untuk mencari
bukti-bukti kebenaran. Nadzwa pun bertanya-tanya sesungguhnya kebenaran berada
pada pihak yang mana? Sahabatnya ataukan mbak Elya? Karena ada salah seorang
yang telah menjadi kepercayaan Nadzwa selama di bangku SMA, Nadzwa pun
bercerita kepada orang yang ia percayai tentang apa yang sedang terjadi dan ia
pun menanyakan tentang kebenaran yang sesungguhnya itu yang mana?
Akhirnya orang yang
Nadzwa percayai itu menceritakan sesuatu yang pernah terjadi kepadanya. Dan
kejadian itu sama persis seperti apa yang sedang Nadzwa alami. Orang
kepercayaan Nadzwa meminta Nadzwa untuk menjauhi kak Elya, dia berkata mungkin
kamu tidak bisa langsung menjauh, kamu harus secara perlahan menjauh. Dan
sahabatmu disana sebenarnya dia menyayangimu dia tidak ingin engkau tersesat.
ALLAH sungguh sayang kepadamu Nadzwa,
sehingga melalui sahabatmu disana adalah cara ALLAH menjagamu, ALLAH tidak akan
melupakan hamba-NYA.
Akhirnya Nadzwa pun
mulai sadar bahwa sesungguhnya orang yang perlu ia curigai dan ia jauhi
bukanlah sabahatnya namun orang yang baru ia kenal dan yang mengajak ia untuk
menjauhi kebaikan ialah mbak Elya.

Komentar
Posting Komentar